Dari Yogyakarta 1925: Ketika Muhammadiyah Memaknai Gerakan Islam sebagai Gerakan Peradaban
Oleh : Jufri
Pada tahun 1925, ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan, Muhammadiyah telah berbicara jauh melampaui zamannya. Dalam khutbah iftitah Rapat Besar Muhammadiyah di Yogyakarta yang disampaikan oleh M. Yunus Anis berjudul “Pandangan Gerak Islam dan Gerak Muhammadiyah”, tergambar dengan jelas bagaimana Muhammadiyah memandang Islam bukan sekadar identitas, melainkan sebuah kekuatan peradaban yang mendorong ilmu pengetahuan, kemajuan, dan kesejahteraan manusia.
Pesan yang disampaikan hampir seabad yang lalu itu ternyata masih terasa sangat relevan hingga hari ini.
M. Yunus Anis mengingatkan bahwa semakin jauh umat Islam dari ajaran agamanya yang sejati, semakin mundur pula kondisi umat itu sendiri. Sebaliknya, ketika umat Islam dahulu menjadikan Islam sebagai sumber inspirasi kehidupan, dunia justru datang belajar kepada mereka. Kota-kota Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan, universitas dan madrasah menjadi tujuan para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia, sementara karya-karya para ilmuwan Muslim menjadi pelita bagi peradaban manusia.
Sejarah memang mencatat bahwa dunia pernah menyaksikan masa ketika peradaban Islam berdiri di garis depan ilmu pengetahuan, kedokteran, astronomi, matematika, filsafat, hingga tata kelola pemerintahan. Pada masa itu, orang datang bukan untuk menguasai dunia Islam, melainkan untuk belajar darinya.
Pesan penting dari pidato tersebut sebenarnya sederhana tetapi mendalam: kemajuan umat tidak akan lahir hanya dari kebanggaan terhadap masa lalu, tetapi dari keberanian untuk kembali menjadikan ilmu, kerja keras, integritas, dan akhlak sebagai fondasi kehidupan.
Muhammadiyah sejak awal memahami bahwa gerakan Islam tidak cukup berhenti pada retorika keagamaan. Islam harus hadir dalam bentuk sekolah, rumah sakit, pelayanan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan pencerahan masyarakat. Karena itulah Muhammadiyah memilih jalan amal usaha dan kerja nyata sebagai bentuk dakwahnya.
Bagi Muhammadiyah, dakwah bukan sekadar memperbanyak perdebatan, melainkan memperbanyak solusi.
Sekolah didirikan agar masyarakat tercerahkan. Rumah sakit dibangun agar manusia memperoleh pelayanan yang bermartabat. Panti asuhan dan pelayanan sosial dijalankan agar agama benar-benar hadir di tengah penderitaan manusia. Inilah bentuk nyata dari Islam yang bergerak, Islam yang bekerja, dan Islam yang mencerahkan.
Menariknya, M. Yunus Anis juga menyinggung bagaimana sepanjang sejarah selalu ada upaya untuk mendiskreditkan Islam dan Nabi Muhammad ﷺ. Namun beliau meyakini bahwa kebenaran tidak dapat dihancurkan hanya dengan propaganda atau kebencian. Sebab kekuatan sebuah peradaban tidak terletak pada seberapa keras ia membela dirinya dengan kemarahan, tetapi pada seberapa besar manfaat yang mampu diberikannya kepada manusia.
Di sinilah Muhammadiyah memilih jalan yang khas: menjawab tuduhan dengan karya, menjawab kebencian dengan pelayanan, dan menjawab keraguan dengan prestasi.
Barangkali inilah pelajaran besar yang dapat kita renungkan hari ini.
Ketika dunia semakin dipenuhi polarisasi, fanatisme sempit, dan pertengkaran yang melelahkan, Muhammadiyah sejak lama menawarkan jalan yang berbeda: membangun peradaban melalui pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan penguatan moral masyarakat.
Gerakan Islam bukanlah gerakan kemarahan, melainkan gerakan pencerahan.
Gerakan Islam bukanlah gerakan yang sibuk mencari musuh, melainkan gerakan yang sibuk menghadirkan manfaat.
Dan Muhammadiyah sejak kelahirannya telah berusaha berjalan di jalan itu.
Lebih seratus tahun telah berlalu sejak pidato itu disampaikan di Yogyakarta. Gedung boleh berubah, zaman boleh berganti, teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi pesan dasarnya tetap sama: umat Islam akan maju apabila kembali menempatkan ilmu, akhlak, kerja keras, dan pengabdian kepada masyarakat sebagai inti keberagamaannya.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah gerakan Islam bukanlah seberapa keras suaranya terdengar, melainkan seberapa besar cahaya yang berhasil dipancarkannya bagi kehidupan manusia.
Itulah makna Islam Berkemajuan yang diwariskan Muhammadiyah: agama yang tidak hanya mengajarkan manusia untuk menjadi saleh secara pribadi, tetapi juga mendorong lahirnya masyarakat yang cerdas, adil, beradab, dan tercerahkan.
Sebuah cita-cita besar tentang Indonesia yang berkemajuan, bangsa semesta yang bercahaya, dan peradaban yang menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni






