Sisakan Waktu untuk Muhammadiyah, Jangan Waktu Sisa untuk Muhammadiyah
Oleh ; Jufri
Dalam sambutannya pada kegiatan sosialisasi SatuMu di lingkungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Tebing Tinggi, Ketua PDM Kota Tebing Tinggi, Jufri, S.Pd.I., M.I.Kom., menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat mendalam:
“Sisakan waktu untuk Muhammadiyah, jangan waktu sisa untuk Muhammadiyah.”
Pesan ini mengingatkan bahwa Muhammadiyah tidak boleh ditempatkan sebagai urusan terakhir setelah semua kepentingan pribadi selesai. Muhammadiyah harus memperoleh ruang yang memang disiapkan secara sadar dalam kehidupan setiap kader dan pimpinan sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian.
Di tengah kesibukan pekerjaan, keluarga, profesi, dan berbagai urusan kehidupan lainnya, sering kali organisasi hanya memperoleh “waktu sisa”. Padahal Muhammadiyah tumbuh menjadi gerakan besar karena adanya orang-orang yang rela memberikan sebagian waktu terbaiknya untuk dakwah dan kemajuan umat.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PDM juga mengingatkan bahwa menjadi kader dan pimpinan Muhammadiyah memerlukan pengorbanan. Setidaknya ada lima bentuk pengorbanan yang harus siap diberikan.
Pertama, pengorbanan waktu. Tidak ada gerakan yang dapat berjalan tanpa waktu yang disediakan oleh para penggeraknya.
Kedua, pengorbanan tenaga. Berbagai aktivitas dakwah, pendidikan, sosial, dan organisasi membutuhkan keterlibatan langsung dari para kader.
Ketiga, pengorbanan pikiran. Muhammadiyah memerlukan gagasan, solusi, dan pemikiran yang mencerahkan untuk menjawab tantangan zaman.
Keempat, pengorbanan harta benda. Banyak amal usaha dan kegiatan persyarikatan lahir dari semangat berinfak, bersedekah, dan berwakaf.
Kelima, pengorbanan perasaan. Dalam organisasi tentu ada perbedaan pendapat, kritik, dan dinamika. Semua itu membutuhkan kelapangan hati dan keikhlasan untuk menerima keputusan bersama.
Banyak orang di luar Muhammadiyah merasa heran melihat bagaimana organisasi sebesar ini dapat terus berkembang. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid, dan berbagai amal usaha berdiri dan berkembang di berbagai daerah. Namun pada saat yang sama, para pimpinan Muhammadiyah di berbagai tingkatan pada dasarnya tidak menerima gaji dari persyarikatan karena jabatannya sebagai pimpinan.
Muhammadiyah adalah organisasi nirlaba yang bertumpu pada semangat pengabdian. Para pimpinan dan pengurus umumnya memiliki pekerjaan dan profesi masing-masing untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sementara tugas-tugas persyarikatan dijalankan sebagai amanah dakwah dan pengabdian kepada umat.
Inilah salah satu kekuatan Muhammadiyah yang mungkin tidak selalu terlihat. Orang-orang datang ke rapat, mengikuti musyawarah, menyusun program, melakukan perjalanan organisasi, memikirkan kemajuan amal usaha, bahkan terkadang mengeluarkan biaya pribadi, bukan karena mendapatkan imbalan materi, melainkan karena keyakinan bahwa pengabdian tersebut bernilai ibadah di sisi Allah SWT.
Karena itu, pesan “Sisakan waktu untuk Muhammadiyah, jangan waktu sisa untuk Muhammadiyah” sesungguhnya adalah ajakan untuk memberikan yang terbaik bagi persyarikatan. Sebab Muhammadiyah tidak dibangun oleh orang-orang yang menunggu balasan duniawi, tetapi oleh mereka yang bersedia mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta, dan perasaannya demi kemajuan umat.
Pada akhirnya, yang membuat seseorang dikenang dalam Muhammadiyah bukanlah lamanya memegang jabatan, melainkan seberapa besar pengabdian yang telah ia berikan. Sebab sejarah Muhammadiyah selalu ditulis oleh mereka yang rela menyisihkan sebagian hidupnya untuk berkhidmat, mencerahkan, dan memajukan kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni





