Teladani Keberanian Nabi Ibrahim Menegakkan Kebenaran di Era Post-Truth
INFOMU.CO | Yogyakarta – Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jannatul Husna, mengajak umat Islam meneladani keberanian Nabi Ibrahim AS dalam menegakkan kebenaran di tengah maraknya budaya kebohongan dan manipulasi informasi pada era modern.
Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Jumat (29/5), menjelang perayaan Iduladha 1447 H.
Menurutnya, salah satu karakter agung Nabi Ibrahim yang relevan untuk diteladani saat ini adalah asy-syaja’ah atau keberanian membela kebenaran, terutama ketika masyarakat hidup di zaman yang sering disebut sebagai era post-truth atau pasca-kebenaran.
“Ini adalah zaman ketika kebohongan diamplifikasi, diulang berkali-kali hingga dianggap sebagai kebenaran, sementara kebenaran justru dipinggirkan dan dianggap tidak penting,” ujarnya.
Ia mengutip sabda Nabi Muhammad SAW tentang masa ketika pendusta dipercaya dan orang jujur justru didustakan. Fenomena tersebut, kata dia, juga pernah terjadi pada masa Nabi Ibrahim AS. Saat itu penyembahan berhala dianggap sebagai sesuatu yang normal dan menjadi kebenaran umum, sedangkan ajaran tauhid dipandang asing oleh masyarakat.
Karena itu, Jannatul Husna menegaskan bahwa ukuran kebenaran tidak ditentukan oleh banyaknya orang yang mengikutinya, melainkan oleh kualitas kebenaran yang diridai Allah SWT.
“Nabi Ibrahim berani berdiri sendiri melawan arus kebatilan zamannya,” katanya.
Ia kemudian mengutip firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 120 yang menyebut Nabi Ibrahim sebagai ummatan, yakni satu umat. Mengacu pada penjelasan mufasir Mesir, Ahmad Mustafa Al-Maraghi, penyebutan tersebut menunjukkan bahwa Ibrahim menghimpun begitu banyak keutamaan, kemuliaan, dan keberanian dalam dirinya sehingga seolah-olah setara dengan sebuah umat.
“Seandainya keberanian dan kemuliaan Nabi Ibrahim itu dibagikan kepada kita semua hari ini, maka lebih dari cukup untuk membentuk satu bangsa yang pemberani,” tuturnya.
Diamnya Orang Baik Membuat Kejahatan Semakin Berani
Dalam khutbahnya, Jannatul Husna mempertanyakan mengapa umat Islam tidak boleh diam ketika melihat kemungkaran dan penyimpangan.
Menurutnya, diamnya orang-orang baik justru membuat kejahatan merasa aman dan semakin leluasa merusak kehidupan masyarakat.
“Pilihan kita hanya dua, hancur bersama-sama atau selamat bersama-sama. Ketika kita tidak peduli terhadap kemaksiatan dan penegakan kebenaran, kerusakan akan semakin meluas,” ujarnya.
Ia menilai salah satu penyakit masyarakat modern adalah munculnya “nifak modern”, yakni ketakutan untuk menyampaikan kebenaran karena khawatir kehilangan jabatan, harta, atau kedudukan di hadapan atasan.
Sikap tersebut, lanjutnya, mirip dengan mentalitas para penyihir dan pengawal Firaun yang hanya berorientasi pada keuntungan dan kedekatan dengan penguasa.
Mengutip Surah Asy-Syu’ara ayat 41–42, ia menjelaskan bahwa para penyihir bertanya kepada Firaun apakah mereka akan memperoleh imbalan jika berhasil mengalahkan Nabi Musa. Firaun pun menjanjikan kedudukan dan kedekatan dengan kekuasaan sebagai balasan.
“Ini adalah mentalitas transaksional, menjual kebenaran demi upah dan posisi di hadapan manusia,” katanya.
Sebaliknya, Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa satu-satunya pihak yang layak dicari rida dan pengakuannya adalah Allah SWT.
Tiga Strategi Menegakkan Kebenaran
Jannatul Husna juga menjelaskan beberapa pelajaran yang dapat dipetik dari perjuangan Nabi Ibrahim dalam menyampaikan kebenaran.
Pertama, menegakkan kebenaran harus dilakukan dengan hujah dan argumentasi yang kuat. Ia mencontohkan peristiwa ketika Nabi Ibrahim menghancurkan berhala-berhala kaumnya dan menyisakan berhala terbesar untuk memancing masyarakat berpikir secara logis.
“Di era post-truth, kita tidak melawan hoaks dengan hoaks tandingan, tetapi dengan data, fakta, dan logika yang valid,” tegasnya.
Kedua, mengikis rasa takut kepada manusia. Ia mengingatkan bahwa ketika diancam dibakar oleh Raja Namrud, Nabi Ibrahim tidak mengubah pendiriannya demi keselamatan diri. Sebaliknya, beliau bertawakal sepenuhnya kepada Allah SWT.
“Hasbunallahu wa ni’mal wakil. Cukuplah Allah sebagai penolong dan Dia sebaik-baik pelindung,” ujarnya.
Ketiga, menyesuaikan cara menyampaikan kebenaran dengan kapasitas masing-masing sebagaimana diajarkan Rasulullah SAW dalam hadis tentang mengubah kemungkaran.
Menurutnya, hadis man ra’a minkum munkaran fal yugayyirhu biyadih mengandung pesan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan harus menggunakan kewenangannya untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, bukan justru menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi.
Sementara masyarakat yang tidak memiliki kewenangan dapat menyampaikan kebenaran melalui lisan dan tulisan, termasuk memanfaatkan media sosial untuk meluruskan berbagai penyimpangan yang terjadi di tengah masyarakat.
Adapun ketika seseorang tidak mampu menggunakan kekuasaan maupun lisan, maka setidaknya ia harus menolak kemungkaran dengan hati serta memperbanyak doa agar kondisi masyarakat menjadi lebih baik.
Menutup khutbahnya, Jannatul Husna mengajak jamaah untuk menentukan sikap: apakah akan mengikuti jejak Nabi Ibrahim yang tetap teguh bersama kebenaran meskipun menghadapi tekanan zaman, atau justru memilih jalan para pendukung kekuasaan yang mengorbankan kebenaran demi kepentingan duniawi.
Ia juga menyinggung salah satu isu yang ramai diperbincangkan belakangan ini, yakni perdebatan mengenai legitimasi kurban yang bersumber dari dana pajak rakyat untuk menyenangkan penguasa.
“Terpulang kepada kita, mau berada di barisan yang mana,” pungkasnya. (muhammadiyah.or.id)



