Sebulan Perang Iran-AS-Israel: Selat Hormuz Lumpuh, Pasar Saham Global Rontok
Konflik antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat (AS) dan Israel tepat memasuki sebulan dan masih berlangsung. Terbaru Iran masih menolak proposal 15 poin yang diajukan AS, dan memberikan 5 tuntutan sebagai syarat untuk mengakhiri perang.
Tak tinggal diam, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melakukan serangan balasan dalam operasi True Promise 4 dengan melancarkan salvo drone dan rudal balistik ke berbagai kota di Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan, yang tersebar di Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, Irak, hingga Arab Saudi.
Dalam perjalanannya, arena perang militer mulai bergeser menuju ranah ekonomi, ketika Iran membatasi akses di Selat Hormuz, wilayah perairan sempit yang menjadi jalur vital bagi distribusi sekitar 20 persen atau sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Presiden AS, Donald Trump, kini berupaya meredakan ketegangan dengan menawarkan gencatan senjata selama 30 hari. Proposal tersebut mencakup rencana perdamaian 15 poin, mulai dari pelonggaran sanksi, pembatasan program nuklir, hingga pengawasan oleh Badan Energi Atom Internasional.
Namun, Iran menolak proposal tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan sikap tegas negaranya. “Kami ingin mengakhiri perang dengan cara kami sendiri,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Penolakan ini menempatkan Trump pada dilema besar, antara menghentikan operasi militer atau meningkatkan eskalasi dengan risiko konflik berkepanjangan.
Di sisi lain, sejumlah kelompok perlawanan di kawasan, seperti di Irak, lalu Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, juga ikut terlibat melawan AS-Israel.
Iran Beri Tekanan Energi
Meski mengalami kerusakan cukup signifikan akibat serangan AS dan Israel, baik terhadap fasilitas militer maupun infrastruktur sipil, Iran tidak menyerah. Teheran justru meningkatkan serangan rudal dan drone, sekaligus mengunci posisi strategis di Selat Hormuz.
Iran bahkan mulai mengatur lalu lintas kapal, hanya mengizinkan kapal “nonmusuh” melintas dengan syarat tertentu, serta mempertimbangkan pungutan biaya. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk mengendalikan aliran energi global dan meningkatkan daya tawar dalam negosiasi.
Analis internasional, Jonathan Eyal, menilai AS gagal membaca dampak jangka panjang dari konflik ini. “AS tampaknya tidak sepenuhnya memahami konsekuensi strategis dari konflik ini,” katanya, melansir Anadolu.
Sementara itu, analis lain, Karim Sadjadpour, menyebut ketahanan Iran sebagai faktor penentu. “Iran menang dengan tidak kalah,” ujarnya.
Dilema dan Tekanan Politik
Memasuki bulan kedua konflik, Iran dinilai mulai memegang kendali. Jika AS mundur, Teheran berpotensi mengklaim kemenangan. Sebaliknya, jika eskalasi ditingkatkan, Iran diperkirakan akan memperluas tekanan ekonomi dan militer di kawasan.
Di dalam negeri, posisi Trump juga semakin tertekan. Survei dari Pew Research Center menunjukkan 61 persen responden tidak setuju dengan penanganan konflik oleh Trump. Sementara survei Reuters/Ipsos mencatat tingkat persetujuan publik merosot hingga 36 persen.
Mantan pejabat intelijen AS, Jonathan Panikoff, menilai situasi ini sangat sulit bagi Gedung Putih. “Presiden Trump memiliki pilihan yang buruk di semua sisi,” katanya.
Diplomasi Mandek?
Sejauh ini, belum ada kemajuan dalam diplomasi kedua belah pihak alias masih menemui jalan buntu. Proposal perdamaian AS yang dikirim melalui jalur belakang belum mendapat respons positif dari Teheran.
Trump dikabarkan mempertimbangkan opsi militer lanjutan, termasuk kemungkinan operasi darat, di mana kini ribuan pasukan marinir AS sudah berada di kawasan Asia Barat. Namun, rencana tersebut dinilai sulit terealisasi selama Selat Hormuz masih berada di bawah kendali Iran.
Analis Laura Blumenfeld menilai strategi Trump cenderung ambigu. “Trump memainkan sinyal yang kontradiktif untuk menjaga lawannya tetap tidak seimbang,” sorotnya.
Pasar Global Rontok?
Dampak konflik juga mengguncang ekonomi global. Penutupan Selat Hormuz dan gangguan pasokan energi memicu gejolak pasar keuangan dunia.
Data Bloomberg mencatat kapitalisasi pasar global turun dari US$ 157,5 triliun menjadi US$ 146 triliun dalam sebulan, atau sekitar US$ 11,5 triliun menguap.
Harga minyak melonjak sekitar 45 persen, memicu kekhawatiran lonjakan inflasi global. Sementara itu, bursa saham utama dunia mengalami koreksi tajam:
-AS: Indeks S&P 500 turun 7,4 persen, Nasdaq merosot 7,6 persen
-Eropa: DAX Jerman anjlok 11,8 persen, CAC 40 Prancis turun 10,2 persen
Konflik yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang ini juga memperparah kondisi kemanusiaan di kawasan. Selain itu, dampak perang di Asia Barat tersebut telah mengakibatkan krisis energi di berbagai negara. (Ubay NA/Maklumat)










