Pengajian Ramadan 1447 H: Aisyiyah Sumatera Utara Angkat Isu Kesehatan Mental
INFOMU.,CO | Medan – Pimpinan Wilayah (PW) Aisyiyah Sumatera Utara melalui Majelis PAUD DASMEN bekerja sama dengan Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal Sumatera Utara (IGABA Sumut) menggelar Pengajian Ramadan dengan mengangkat tema “Kesehatan Mental”. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Sumut, Jalan Sisingamangaraja No.136 Medan, Kamis (12/3).
Kesehatan mental menjadi hal yang sangat penting agar seseorang tetap kuat secara emosional, mampu mengelola stres, serta menjalani kehidupan dengan pikiran yang positif dan penuh makna.
Kegiatan ini dihadiri Wakil Bendahara PW Aisyiyah Sumut Kusmilawati, SE., M.Ak, Ketua Majelis PAUD DASMEN PW Aisyiyah Sumut Dra. Rusni, Ketua IGABA Sumut Siti Saleha, S.Ag., S.Pd., M.Psi, PD Aisyiyah Majelis PAUD DASMEN Kota Medan, Deli Serdang, dan Binjai, Febriantika, M.KM selaku pemateri, para kepala sekolah, serta sekitar 100 guru TK ABA se-Sumatera Utara.
Ketua Majelis PAUD DASMEN PW Aisyiyah Sumut, Dra. Rusni, menjelaskan bahwa tema kesehatan mental dipilih karena persoalan ini sangat berkaitan dengan peran orang tua, guru, serta perkembangan anak-anak didik, khususnya pada usia dini.
Menurutnya, keterlibatan IGABA dalam kegiatan tersebut sangat penting karena para guru PAUD merupakan pihak yang berinteraksi langsung dengan anak-anak yang sedang berada pada masa pertumbuhan awal. Oleh karena itu, para pendidik diharapkan mampu memahami cara mendidik anak dengan baik agar perkembangan mental mereka tetap sehat.
Rusni juga menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi para guru saat ini. Selain persoalan keluarga dan lingkungan, guru juga sering menghadapi situasi ketika orang tua tidak menerima jika anaknya mendapat teguran dari guru di sekolah.
“Karena itu kami mengangkat tema kesehatan mental agar para guru siap menghadapi berbagai persoalan yang muncul, baik di lingkungan sekolah maupun di masyarakat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rusni juga menekankan pentingnya pemanfaatan media sosial secara positif di lingkungan sekolah. Ia mendorong para guru untuk mempublikasikan kegiatan pembelajaran, terutama yang berbentuk praktik atau aktivitas kreatif siswa, melalui media sosial sekolah.
Menurutnya, publikasi kegiatan positif di sekolah dapat memberikan dampak baik bagi anak-anak. Dengan banyaknya aktivitas pembelajaran dan kegiatan sekolah yang menarik, siswa akan lebih fokus pada kegiatan positif dibandingkan melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat di luar pengawasan sekolah.


Sementara itu, Wakil Bendahara PW Aisyiyah Sumut Kusmilawati, SE., M.Ak menyampaikan bahwa kesehatan mental saat ini menjadi perhatian penting bagi semua pihak. Menurutnya, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bersama karena generasi muda saat ini dinilai lebih rentan terhadap gangguan mental.
Ia menjelaskan bahwa generasi saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Perkembangan zaman yang semakin pesat memberikan berbagai kemudahan, namun di sisi lain juga menghadirkan tekanan baru yang dapat berdampak pada kesehatan mental generasi muda.
Melalui pengajian Ramadan tersebut, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai faktor yang dapat memicu gangguan kesehatan mental. Ia juga menekankan bahwa sebelum mendidik generasi muda agar memiliki mental yang kuat, para orang tua dan guru perlu terlebih dahulu mempersiapkan kesehatan mental mereka sendiri.
Kegiatan yang melibatkan IGABA ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas kepada para guru mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental, baik bagi diri sendiri maupun bagi anak-anak yang mereka didik. Sebab, baik di lingkungan rumah maupun di sekolah, orang tua dan guru memiliki peran besar dalam membentuk mental generasi muda.
Ia pun berharap setelah mengikuti pengajian tersebut para guru dan orang tua dapat lebih siap dalam mendidik generasi muda serta mampu mempersiapkan anak-anak agar memiliki mental yang kuat dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Sementara itu, Febriantika, M.KM selaku pemateri dalam pengajian tersebut mengatakan bahwa materi yang disampaikannya secara khusus membahas kesehatan mental bagi para guru. Ia menjelaskan bahwa dalam menghadapi tantangan kesehatan mental di era saat ini, penguatan mental sebaiknya dimulai dari para pendidik terlebih dahulu sebelum mereka membimbing para siswa.
Menurutnya, pengaruh media sosial terhadap anak-anak juga perlu menjadi perhatian serius. Ia menilai pembatasan terhadap hal-hal negatif di media sosial merupakan langkah yang cukup tepat, bahkan di beberapa negara kebijakan tersebut sudah mulai diterapkan.
Febriantika menambahkan bahwa penggunaan media sosial pada anak di bawah usia 16 tahun dapat memengaruhi perkembangan otak serta kondisi psikologis mereka. Karena itu, diperlukan kesadaran serta pengawasan dari orang tua maupun guru terhadap penggunaan media sosial di kalangan anak-anak.
Ia berharap para guru memiliki kesiapan kesehatan mental yang lebih baik dan lebih kuat. Selain itu, guru juga diharapkan mampu menyelesaikan persoalan mental pribadinya terlebih dahulu sehingga dapat lebih siap dalam mendidik dan membimbing anak-anak dengan lebih optimal.(AH/Bess)





