Review Teks “Kitab al-Usthurlab” Karya Kūsyār bin Labbān (w. 350 H/961 M)
Oleh: Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar- Dosen FAI UMSU dan Kepala OIF UMSU
Astrolabe adalah salah satu instrumen astronomi yang paling populer di dunia Islam abad pertengahan, ada banyak sarjana yang berkecimpung dalam bidang astronomi menulis buku tentang instrumen ini. Dalam karya-karya tentang ini, para astronom tidak hanya menjelaskan fungsi dan cara mengonstruksi, tetapi juga menjelaskan prinsip-prinsip geometrisnya. Diantara sarjana (astronom) yang menulis buku tentang astrolabe antara lain “Risalah fi ‘Ilm al-Usthurlab” karya Kūsyār bin Labbān, seorang sarjana astronomi terkemuka asal Iran. Namun menurut Taro Mimira sebagian besar karya-karya tentang astrolabe yang berkembang di dunia Islam banyak memiliki kesamaan isi antara satu dengan yang lainnya. Karena itu, muncul pertanyaan, mengapa banyak astronom yang tetap menulis tentang alat ini meskipun isinya tidak banyak berbeda dari karya-karya lain yang sudah ada tentang topik yang sama.

Versi cetak Naskah “Risalah fi ‘Ilm al-Usthurlab” karya Kusyar bin Labban (w. 350 H/961 M).

Naskah “Risalah fi ‘Ilm al-Usthurlab” karya Kusyar bin Labban (w. 350 H/961 M). Sumber : Delhi Arabic 1665, ff 7v-39v/the British Library: Oriental Manuscripts.
Patut dicatat, masing-masing karya ditulis dengan asumsi penggunaan dan rancangan penulisnya masing-masing. Berbagai analisis memperlihatkan bahwa ternyata banyak karya di dunia Arab terkait praktik dan pengoperasian astrolabe memiliki kebaruan. Diantara tokoh-tokoh (astronom-astronom) di dunis Islam yang menulis tentang astrolabe antara lain: Muḥammad bin Mūsā al-Khwārizmī (±780–±850), Alī bin Īsā al-Asṭurlābī (aktif sekitar 832), Abū al-Ḥusayn ʿAbd al-Raḥmān bin ʿUmar al-Ṣūfī (903–986), Ibn al-Ṣaffār al-Andalusī (w. 1035), Abū al-Rayḥān Muḥammad bin Aḥmad al-Bīrūnī (973–±1050), Ibn al-Samḥ al-Gharnāṭī (979–1035), dan Abū al-Ṣalt al-Dānī al-Andalusī (±1068–1134).
Taro Mimira dengan baik telah mereview dan memberi gambaran umum naskah astrolabe yang berjudul “Kitab al-Usthurlab” atau “Risalah fi ‘Ilm al-Usthurlab” yang ditulis oleh Kūsyār bin Labbān. Karyanya ini tersebar luas di berbagai tempat dan masih ditemukan di berbagai belahan dunia hingga saat ini. Dalam kontennya, pada bagian awal naskah ini Kūsyār menjelaskan pentingnya instrumen ini bagi penelitian astronomi, lalu ia memberikan rincian mengenai bagian-bagiannya.
Secara umum, “Risalah fi ‘Ilm al-Usthurlab” atau “Kitab al-Usthurlab” karya Kusyar ini terdiri dari 4 bagian:
1. Bagian pertama, tentang hal-hal penting yang wajib diketahui dalam topik ini (terdiri dari 24 bab).
2. Bagian kedua, tentang topik-topik lain yang jarang dibutuhkan (terdiri dari 12 bab).
3. Bagian ketiga, tentang menelaah bagian-bagian, lingkaran-lingkaran, dan garis-garis serta mengetahui cara memperbaiki kerusakan atau kekurangan yang ada (terdiri dari 12 bab).
4. Bagian keempat, tentang cara membuat atau mengonstruksi astrolabe (terdiri dari 12 bab).
Adapun bagian pertama, yang terdiri dari 24 bab, berisi pembahasan-pembahasan sebagai berikut:
1. Bab satu: tentang mengetahui ketinggian Matahari dan bintang-bintang serta hal-hal lain yang berkaitan dengan topik tersebut.
2. Bab dua: tentang mengetahui titik terbit berdasarkan ketinggian Matahari dan bintang-bintang.
3. Bab tiga: tentang mengetahui penyesuaian derajat Matahari ketika tidak sesuai dengan pembagian pada astrolabe.
4. Bab empat: tentang mengetahui penyesuaian derajat almukantar ketika tidak sesuai dengan pembagian pada astrolabe.
5. Bab lima: tentang mengetahui penyesuaian derajat titik terbit ketika tidak sesuai dengan pembagian pada astrolabe.
6. Bab enam: tentang mengetahui perputaran bola langit sejak terbitnya Matahari dan sebuah bintang atau sejak keduanya terbenam sampai saat pengamatan, serta tentang jam-jam sama panjang yang telah berlalu dalam suatu hari sejak Matahari atau bintang itu terbit atau terbenam.
7. Bab tujuh: tentang mengetahui jam-jam musiman yang telah berlalu pada siang atau malam hingga saat pengamatan, dan tentang mengetahui derajat-derajat jam tersebut.
8. Bab delapan: tentang mengetahui keberadaan pecahan dari jam-jam musiman ketika jam-jam tersebut tidak tepat atau tidak lengkap.
9. Bab sembilan: tentang mengetahui titik-titik utama dan lokasi lainnya pada bola langit.
10. Bab sepuluh: tentang mengetahui deklinasi Matahari.
11. Bab sebelas: tentang mengetahui jarak sebuah bintang dari garis katulistiwa langit.
12. Bab dua belas: tentang mengetahui derajat yang berkulminasi bersama sebuah planet serta derajat yang terbit dan terbenam bersamanya.
13. Bab tiga belas: tentang mengetahui garis lintang suatu wilayah di Bumi dan ketinggian Matahari saat tengah hari.
14. Bab empat belas: tentang mengetahui busur siang Matahari dan sebuah bintang, juga busur malamnya, serta hal-hal lain yang berkaitan dengan topik tersebut.
15. Bab lima belas: tentang mengetahui persamaan panjang siang bagi Matahari dan bintang-bintang.
16. Bab enam belas: tentang mengetahui waktu-waktu terbit tanda-tanda zodiak pada katulistiwa Bumi dan di wilayah yang diasumsikan pada pelat.
17. Bab tujuh belas: tentang mengetahui cara mengubah derajat waktu terbit menjadi derajat yang setara.
18. Bab delapan belas: tentang mengetahui cara mengonversi tahun-tahun dunia dan kelahiran.
19. Bab sembilan belas: tentang mengetahui waktu terbit fajar dan waktu terbenamnya senja.
20. Bab dua puluh: tentang mengetahui garis meridian.
21. Bab dua puluh satu: tentang mengetahui panjang bayangan dari ketinggian.
22. Bab dua puluh dua: tentang mengetahui awal waktu asar dan batas akhirnya.
23. Bab dua puluh tiga: tentang mengetahui ketinggian sebuah objek ketika lokasi batu patoknya dapat dicapai.
24. Bab dua puluh empat: tentang mengetahui ketinggian sebuah objek ketika lokasi batu patoknya tidak dapat dicapai.
Bagian kedua, tentang tambahan yang diperlukan dalam kasus-kasus tertentu (jarang), ada 12 bab, yaitu:
1. Bab satu, tentang mengetahui terbitnya suatu zodiak dari lempeng lintang suatu daerah.
2. Bab dua, tentang mengetahui zodiak yang berada di tengah langit (kulminasi) setelah diketahui posisi lintangnya.
3. Bab tiga, tentang mengetahui posisi Bulan dan planet-planet yang berbolak-balik, jika belum diketahui panjang ekliptiknya.
4. Bab empat, tentang mengetahui planet diam mana yang sedang terbit sebelum diketahui derajatnya, dan cara mengetahuinya melalui tanda-tanda tertentu.
5. Bab lima, tentang mengetahui perjalanan planet, atau derajatnya, bersamaan dengan derajat peredarannya.
6. Bab enam, tentang mengetahui jarak antara terbit suatu planet dengan garis katulistiwa, serta ketinggian terbitnya.
7. Bab tujuh, tentang mengetahui jarak antara lintasan suatu planet atau derajatnya, dan antara tiga lintasan lainnya.
8. Bab delapan, mengetahui jarak antara lintasan planet atau derajatnya dan antara kutub utara atau selatan.
9. Bab sembilan, mengetahui besar lingkaran harian (pergerakan harian benda langit) dan jaraknya dari titik puncak (zenit).
10. Bab sepuluh, mengetahui praktik pada melihat kutub astronomis ekuator langit.
11. Bab sebelas, mengetahui ketinggian kutub ekliptika setiap saat.
12. Bab dua belas, mengetahui jarak antara lintasan suatu planet dan lintasan planet lainnya.
13. Bab tiga belas, mengetahui jarak antara lintasan planet dan lintasan tertinggi kutub ekliptika kutub utara.
Bagian ketiga, tentang pengujian instrumen, lingkaran, dan garis-garis yang digambar pada astrolabe, serta mengetahui kebenarannya (ketepatan pembuatannya), ada 12 bab, yaitu:
1. Bab satu, tentang ketepatan induk astrolabe (al-umm) dan kebenaran ukuran lempeng-lempengnya.
2. Bab dua, tentang ketepatan rongga (al-hujrah) astrolab dan bagian-bagiannya.
3. Bab tiga, tentang ketepatan bagian-bagian ketinggian (skala altitude).
4. Bab empat, tentang ketepatan penunjuk (al-ʿadhadah) dan akurasi geraknya.
5. Bab lima, tentang ketepatan bagian-bagian bayangan (skala bayangan).
6. Bab enam, tentang ketepatan dua garis yang saling berpotongan pada lempeng-lempeng.
7. Bab tujuh, tentang ketepatan tiga lingkaran pada lempeng-lempeng.
8. Bab delapan, tentang ketepatan garis-garis diameter (al-muqantharat).
9. Bab sembilan, tentang ketepatan garis-garis jam.
10. Bab sepuluh, tentang ketepatan jaring (retikula/al-ankabūt) dan penyetaraannya untuk pengukuran ketinggian.
11. Bab sebelas, tentang ketepatan bagian-bagian rasi (zodiak).
12. Bab dua belas, tentang ketepatan bintang-bintang (planet-planet) tetap.
Bagian keempat, tentang pembuatan astrolabe. Bab ini membahas hal-hal yang wajib digambar pada lempeng astrolabe, serta hal-hal yang tidak perlu digambar, ada 12 bab, yaitu:
1. Bab satu, penjelasan tentang apa saja yang harus digambar pada astrolabe dan apa yang tidak perlu digambar.
2. Bab dua, tentang garis horizontal yang digunakan untuk menggambar lingkaran-lingkaran dan garis-garis diameter.
3. Bab tiga, tentang proyeksi pada tiga lingkaran.
4. Bab empat, tentang proyeksi garis-garis diameter.
5. Bab lima, tentang proyeksi garis-garis jam pada lempeng-lempeng.
6. Bab enam, tentang proyeksi lingkaran lintang rasi (zodiak) pada lempeng jaring (al-ʿankabūt/retikula).
7. Bab tujuh, tentang pembagian rasi (zodiak) menjadi dua belas bagian.
8. Bab delapan, tentang pembagian setiap rasi.
9. Bab sembilan, tentang perhitungan posisi jarak planet-planet diam dari ekuator langit.
10. Bab sepuluh, tentang perhitungan derajat kemiringan (inklinasi) suatu planet terhadap bidang langit.
11. Bab sebelas, tentang penempatan bayangan planet-planet tetap pada jaring astrolabe (retikula/al-ʿankabūt).
12. Bab dua belas, tentang pembagian bagian-bagian bayangan.
Secara umum, struktur kitab ini menunjukkan bahwa tujuan Kūsyār dalam menyusun kitab ini adalah menulis sebuah karya yang komprehensif tentang astrolabe yang berisi penjelasan rinci mengenai bagian-bagian astrolabe dan pelat-pelatnya (bagian pengantar), lalu praktik dasar dan non-dasar (bagian pertama dan kedua), cara menjaga dan merawat instrumen tersebut (bagian ketiga), serta cara menggambar dan memproyeksikan garis-garis pada pelat astrolabe (bagian keempat). Namun faktanya menurut Taro Mimira, sebagian besar karya terkait praktik astrolabe hanya berisi penjelasan bagian-bagian, pelat-pelat, serta operasi-operasi dasarnya, yaitu sebagaimana tertera dalam pengantar dan bagian pertama karya Kusyar. Karena itu hampir setiap karya astrolabe memiliki isi yang hampir sama. Informasi dan ulasan singkat tentang hal ini dapat disimak disini: https://oif.umsu.ac.id/karya-astrolabe-di-dunia-islam-perbandingan-karya-kusyar-w-350-h-961-m-dan-al-abhuri-w-663-h-1266-m/ . Wallahu a’lam[]





