Kebersamaan dalam Milad UMSU ke 69
Oleh : Jufri
Usai Milad ke-69 Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara di Kampus Mukhtar Basri, Medan, kami berdiri berdampingan untuk sebuah foto bersama. Tampak Ketua BPH, PWM, unsur rektorat, pimpinan daerah, dan para akademisi. Di antara mereka ada Prof. Dr. Muhammad Qorib, Wakil Rektor II Prof. Akrim, dan para tokoh persyarikatan lainnya. Sebuah momen yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan makna yang dalam.
Menariknya, foto itu diabadikan oleh Dekan Fakultas Agama Islam, Dr. Zailani. Seorang dekan. Seorang penjaga ruh akademik. Ia tidak masuk dalam frame, tetapi justru dari tangannya momen itu menjadi sejarah. Di situ saya kembali diingatkan: tidak semua yang penting harus terlihat.
Milad bukan sekadar perayaan usia. Enam puluh sembilan tahun adalah perjalanan panjang amal usaha Muhammadiyah dalam merawat cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam rentang itu, telah berganti kepemimpinan, berubah kebijakan, berkembang gedung dan program studi. Namun ada yang tidak boleh berubah: nilai.
Foto itu seperti merangkum tiga pilar penting sebuah perguruan tinggi Muhammadiyah. Pertama, struktur kepemimpinan yang menjaga arah dan tata kelola. Kedua, otoritas keilmuan yang memastikan setiap kebijakan tidak kering dari gagasan. Ketiga, ruh keislaman yang memberi orientasi moral. Jika salah satunya rapuh, bangunan akan pincang.
Kehadiran para pimpinan persyarikatan berdampingan dengan akademisi mengirim pesan sunyi: kampus tidak boleh berjalan sendiri dari gerakan, dan gerakan tidak boleh jauh dari ilmu. Ilmu tanpa struktur bisa kehilangan daya dorong. Struktur tanpa ilmu bisa kehilangan arah. Keduanya harus bertemu dalam akhlak dan tanggung jawab.
Saya juga merenung, betapa sering kita terjebak pada siapa yang paling depan dalam foto. Padahal sejarah justru sering ditentukan oleh mereka yang bekerja tenang, yang merawat detail, yang menjaga kesinambungan. Kepemimpinan bukan soal posisi berdiri, tetapi soal peran yang dijalankan.
Milad ke-69 ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kematangan. Usia yang menuntut kedewasaan dalam mengambil keputusan, kebijaksanaan dalam bersikap, dan kerendahan hati dalam melayani. Kampus besar bukan karena gedungnya menjulang, tetapi karena nilai yang dijaga dan manusia yang dibina.
Sejarah bukan hanya ditulis oleh mereka yang berdiri di depan, tetapi juga oleh mereka yang dengan tulus menjaga cahaya di belakang layar.
Silaturahmi Kolaborasi Sinergi Harmoni




