PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Sejarah perubahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah bukan sekadar perpindahan titik koordinat, melainkan sebuah deklarasi teologis tentang kedaulatan Allah SWT. Dosen Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr. Ainur Rha’in, M.Th.I., membedah secara mendalam urgensi QS. Al-Baqarah ayat 142-152, Rabu (25/2).
Dr. Ainur Rha’in menjelaskan bahwa tahwil kiblat (perubahan kiblat) pada ayat 142 merupakan perintah langsung dari Allah untuk menghalau cemoohan kaum Yahudi sekaligus menguji ketaatan umat beriman.
“Ayat ini adalah deklarasi tentang kedaulatan Tuhan. Semua arah adalah milik Allah. Hal ini menunjukkan bahwa Allah memegang kendali penuh atas siklus perputaran ruang dan waktu,” paparnya.
Pada ayat 143, muncul istilah Ummatan Wasathan yang sering dimaknai sebagai umat pilihan yang adil. Rha’in menerangkan lima prinsip utama dalam mewujudkan moderasi Islam (Wasathiyah):
- Adil: Bersikap obyektif dan tidak condong pada kepentingan yang salah.
- Tawazun (Keseimbangan): Menyeimbangkan aspek duniawi dan ukhrawi.
- Tasamuh (Toleransi): Menghargai perbedaan internal umat Islam maupun antarumat beragama.
- Maslahat: Orientasi pada kebaikan bersama bagi seluruh alam.
- Khoiru Ummah: Menjadikan ilmu sebagai fondasi untuk menjadi umat terbaik.
“Umat Islam diproyeksikan menjadi pusat keseimbangan peradaban yang memancarkan rahmat ke seluruh lini kehidupan,” tambahnya.
Ayat 144 hingga 150 mengisahkan kerinduan Rasulullah SAW akan Ka’bah yang akhirnya dikabulkan. Menurut Rha’in, perubahan ini menegaskan identitas umat Islam agar tidak berada di bawah bayang-bayang tradisi Ahlul Kitab.
Dalam konteks kekinian, Rha’in mengibaratkan kiblat sebagai pedoman hidup. Jika kapitalis berkiblat pada Adam Smith dan sosialis pada Karl Marx, maka umat Islam wajib berkiblat pada Al-Quran dan Hadits. “Ka’bah adalah titik sentral yang menyatukan orientasi ibadah dan simbol kesatuan umat di seluruh dunia,” jelasnya.
Menutup ulasannya pada ayat 151-152, Dr. Ainur Rha’in menguraikan empat visi besar Rasulullah: menyampaikan wahyu, penyucian jiwa (tazkiyah), mengajarkan Al-Quran dan Hadits, serta membuka cakrawala pengetahuan baru. Keharmonisan hidup ini pun ditutup dengan dua pilar utama: mengingat Allah (Dzikir) dan bersyukur.
“Saat kehidupan dipenuhi rasa syukur dan selalu mengingat Allah, maka ketenangan dan kenikmatan akan mengalir deras dalam kehidupan kita,” pungkas pakar IQT UMS tersebut.
Kontributor: Affiq | Humas
Editor: Al-Afasy
The post Tafsir Al-Baqarah Pakar UMS: Perubahan Kiblat dan Visi Umat Wasathan sebagai Pusat Peradaban appeared first on Muhammadiyah Jateng.




