PWMJATENG.COM, SURAKARTA – Mahasiswa Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik (FT) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melakukan eksplorasi mendalam terhadap bangunan mixed-use Kampung Admiralty, Singapura, Kamis (5/2). Studi lapangan ini bertujuan menggali solusi hunian adaptif bagi kota-kota padat penduduk dengan keterbatasan lahan, yang kini menjadi tantangan besar di Indonesia.
Sebanyak 16 mahasiswa terlibat dalam rangkaian Kuliah Kerja Lapangan (KKL) internasional di Singapura dan Malaysia ini, dengan didampingi oleh dosen pembimbing lapangan, Suharyani, S.T., M.T.
Kampung Admiralty dipilih karena keberhasilannya menyatukan hunian, layanan kesehatan, fasilitas komersial, hingga ruang publik dalam satu ekosistem vertikal. Model ini dinilai mampu mendorong interaksi sosial sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan secara drastis.
“Fokus pengamatan diarahkan pada bagaimana konsep mixed-use mengintegrasikan kebutuhan hidup masyarakat urban dalam delapan lantai bangunan. Mulai dari plaza, klinik, taman kanak-kanak, hingga apartemen khusus lansia yang saling terhubung secara efisien,” ujar Suharyani, Senin (23/2).
Mahasiswa tidak hanya mengamati fungsi, tetapi juga teknis keberlanjutan. Di tengah kepadatan Singapura, keberadaan ruang hijau bertingkat (sky terrace dan roof garden) menjadi kunci kenyamanan termal. Vegetasi pada bangunan berfungsi menurunkan suhu lingkungan dan menciptakan ruang yang lebih sejuk—sebuah strategi desain tropis yang sangat relevan dengan iklim Indonesia.
Selain itu, mahasiswa mengkaji konsep ageing in place, yaitu desain yang memungkinkan lansia tetap aktif dan mandiri di lingkungan huniannya melalui integrasi fasilitas kesehatan dan sosial yang dekat.
Suharyani menegaskan bahwa pengalaman ini diharapkan mengasah kepekaan sosial dan keterampilan analitis mahasiswa dalam membaca relasi antara desain dan kebutuhan nyata masyarakat.
“Kami berharap temuan lapangan ini dapat diterjemahkan menjadi rekomendasi desain yang aplikatif bagi perencanaan kawasan padat di Indonesia. Mahasiswa Arsitektur UMS harus mampu menghasilkan gagasan yang kontekstual, realistis, dan berorientasi pada keberlanjutan kota,” pungkasnya.
Keberhasilan studi ini semakin memperkuat kapasitas mahasiswa UMS dalam bersaing di level global dengan wawasan arsitektur modern yang berorientasi pada kemanusiaan.
Kontributor: Fika | Humas
Editor: Al-Afasy
The post Bedah Kampung Admiralty Singapura, Mahasiswa Arsitektur UMS Cari Solusi Kota Padat appeared first on Muhammadiyah Jateng.



