PWMJATENG.COM, MALAYSIA — Lingkungan sekolah yang aman bukan sekadar dambaan, melainkan kebutuhan mendesak. Menyadari hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berkolaborasi dengan Institut Mamba’ul ‘Ulum (IMU) dan UIN Raden Mas Said Surakarta menggelar program pengabdian internasional di Sekolah Agama Menengah Tengku Ampuan Jamaah, Selangor, Malaysia.
Program ini difokuskan pada penguatan kapasitas guru dalam mengenali, mencegah, dan menangani kasus bullying secara berkelanjutan. “Dampak bullying sangat serius, mulai dari penurunan prestasi hingga tekanan psikologis berkepanjangan. Guru adalah garda terdepan yang harus mampu menciptakan iklim inklusif,” ungkap perwakilan tim kolaborasi.
Salah satu materi inti yang diperkenalkan adalah Psychological First Aid (PFA). PFA merupakan bentuk dukungan psikologis awal yang manusiawi dan suportif. Keunggulannya, pendekatan ini dapat dilakukan oleh guru tanpa harus memiliki latar belakang konseling profesional.

Teknik PFA menekankan pada tiga pilar utama:
- Mendengarkan secara empatik: Memberikan ruang bagi siswa untuk merasa didengar.
- Memberikan rasa aman: Menenangkan siswa tanpa memaksa mereka menceritakan trauma secara rinci.
- Menghubungkan dukungan: Menjadi jembatan bagi siswa untuk mendapatkan bantuan lanjutan yang diperlukan.
Melalui edukasi ini, diharapkan sekolah mampu membangun budaya saling menghargai dan empati. Kolaborasi lintas negara ini membuktikan bahwa sinergi antarperguruan tinggi dan komunitas sekolah menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat secara psikologis dan mendukung perkembangan karakter peserta didik secara optimal.
Editor: Al-Afasy
The post Tiga Kampus Surakarta Beraksi di Malaysia: Bekali Guru Teknik “PFA” Hadapi Bullying appeared first on Muhammadiyah Jateng.





