Pesan Haedar Nashir: Perkuat Budaya Antikorupsi, Tutup Celah Suap Menyuap
INFOMU.CO | Jakarta – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan ada tiga hal penting yang perlu dijalankan KPK bersama dengan seluruh elemen bangsa untuk bersama memberantas budaya korupsi. Hal ini disampaikan dalam penandatanganan MoU antara Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Selasa (20/1/2026).
“Dan itu tidak selalu dapat terjangkau oleh KPK, namun kami percaya sesulit apapun aspek struktural ini, negara selalu punya otoritas, dan kekuatan (power). Saya percaya ke depan pemberantasan korupsi akan terus menunaikan hasil yang lebih baik lagi,” ujar Haedar.
“Konsistensi inilah yang diharapkan publik. Sehingga pemberantasan korupsi meskipun proses pendakiannya berat, tetap memberi harapan besar bagi publik untuk terus dijalankan lebih baik lagi,” tegas Haedar.
Aspek kedua yang menjadi penekanan Haedar adalah tentang Budaya. Budaya antikorupsi menurutnya perlu terus diperkuat di seluruh lapisan masyarakat dan organisasi termasuk juga Muhammadiyah.
Selain itu, Haedar turut menambahkan bahwa penekanan budaya antikorupsi ini memerlukan mentalitas untuk selalu berbuat kejujuran, kebaikan, dan kebenaran. Ia mengungkap bahwa mentalitas ini perlu terus ditanam. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri.
Dalam aspek ketiga Haedar memberikan penekanan kepada aspek ekosistem. Melihat realitas perkembangan pembangunan dan bisnis yang ada di negara ini, Haedar berpesan untuk seluruh elemen bangsa agar tidak tergoda akan budaya yang membawa kepada tradisi suap menyuap.
Ketiga aspek diatas, yang menjadi penting untuk ditanamkan bersama adalah semangat membangun bangsa. “Jadi, semangat membangun itu dengan segala dimensinya harus menjadi komitmen dan visi kita sebagai bangsa,’” tegasnya.
Berdasarkan teori itu, Haedar memberikan pesan kepada masyarakat agar tetap bertindak bukan hanya di dunia maya, namun juga diwujudkan ke dalam aksi-aksi yang nyata yang penuh dengan kesadaran, realitas, dan kebijakan khususnya dalam bersosial media.
“Maka dari itu, sering saya sebut ini sebagai dunia simulacra. Jadi dunia medsos ini juga perlu penyadaran, perlu edukasi untuk kita selalu dapat menjadi bangsa yang produktif, punya kesadaran bersama bahwa korupsi itu penyakit menular,” pungkas Haedar. (tabligh)










