Dalam ekosistem sosial yang terus berubah, generasi muda bukan hanya pewaris peradaban—mereka adalah arsitek masa depan. Karena itu, setiap langkah pembinaan, edukasi, dan pendampingan yang mereka terima hari ini akan menentukan seperti apa wajah umat dan bangsa esok hari.
Kesadaran inilah yang tampak ketika puluhan pemuda Gen Z memadati Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran sejak pukul 07.00 pagi. Dari siswa SMA hingga mahasiswa semester akhir, mereka hadir dengan kesadaran baru: masa depan harus direncanakan, bukan ditunggu.
Kedatangan mereka bukan tanpa alasan. Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Buduran menggelar kegiatan Kelas Pra-Nikah sebagai bagian dari rangkaian Semarak Milad ke-113 Muhammadiyah yang dilaksanakan dengan beberapa Kegiatan selama sebulan penuh, bertempat di Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran.
Dengan tema yang sangat relevan bagi anak muda, “Cinta Nggak Cukup Kalau Nggak Kuat Bareng”, kegiatan yang digelar pada Ahad, (23/11/2025) ini berhasil menarik antusiasme besar dari peserta. Acara dibuka pukul 08.00, dipandu oleh MC Ayunda Athiyah (PCNA Buduran) serta moderator Syahensyah Raiq (PCPM Buduran).
Pernikahan
Pemateri utama, Zayyin, seorang penulis buku dan fasilitator pra-nikah, memberikan materi yang membongkar persepsi umum tentang pernikahan. Ia menegaskan bahwa dalam Islam, pernikahan tidak cukup hanya bermodal cinta, melainkan harus dibangun di atas ketakwaan, visi yang benar, dan komitmen menjalankan sunnah Nabi.
“Pernikahan dipandang sebagai ibadah yang menyempurnakan separuh agama, menjaga diri dari godaan, dan menjadi jalan menuju keluarga yang bahagia dunia–akhirat. Pasangan terbaik bukan hanya yang dicintai, tetapi yang bertakwa sehingga mampu mencintai dengan total dan tetap menjaga ketika konflik atau emosi muncul,” tuturnya.
Ia juga menyoroti empat modal penting sebelum menikah: niat yang lurus, visi-misi keluarga, kesiapan mental, dan kesiapan materi.
“Proses mendapatkan jodoh terbaik berawal dari memperbaiki diri, menjalani proses yang benar, serta berada dalam lingkungan yang mendukung. Itulah fondasi untuk membangun pernikahan yang bukan hanya bertahan, tetapi memberi ketenangan (sakinah), cinta yang tumbuh (mawaddah), dan kasih sayang yang berkelanjutan (rahmah),” jelasnya dalam pemaparan materi.
Proyek Besar Kehidupan
Dalam pesan penutupnya, Ustaz Zayyin menambahkan, jika pernikahan adalah proyek besar kehidupan. Ia membutuhkan perencanaan, kesiapan diri, dan ketakwaan yang matang. Bukan hanya hubungan emosional, tetapi ibadah panjang yang harus dijalani dengan kesungguhan.
Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi dan tanya jawab sepanjang kegiatan. Gurit Rahmadhani, ketua pelaksana, menyampaikan bahwa Kegiatan yang mengusung Pra-Nikah ini adalah yang pertama kali digelar oleh AMM Buduran.
“Semoga kegiatan ini menumbuhkan kesadaran bahwa pernikahan adalah kerja sama dua insan yang saling menopang, bukan dominasi satu pihak,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemahaman baru yang tumbuh hari ini menunjukkan bahwa cinta harus disertai tanggung jawab, kemauan belajar, dan kesiapan menghadapi realita.
Di tengah derasnya arus digital, distraksi, dan perubahan nilai, hadirnya pemuda-pemudi yang mau belajar, mempersiapkan diri, dan menata masa depan adalah harapan besar bagi kualitas generasi berikutnya.
Masjid kembali menjadi pusat pembinaan—bukan hanya tempat ibadah, tetapi ruang tumbuh bagi generasi yang akan menuntun masa depan umat. Dan dari Majelis Ar-Royyan hari ini, kita melihat secercah masa depan itu mulai menyala. (*)
Artikel Gen Z Padati Masjid Ar-Royyan: Menata Masa Depan, Menguatkan Fondasi Pra-Nikah dalam Semarak Milad Muhammadiyah pertama kali tampil pada PWMU.CO.




