Musyda Muhammadiyah Kota Gunungsitoli: Antara Harapan dan Tantangan
Oleh: Izfar Anaz , Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Gunungsitoli
Pimpinan Daerah Persyarikatan Muhammadiyah kota gunungsitoli sebentar lagi akan mencetak
sejarah baru. Pada tanggal 13-14 Dzulqaidah 1444 H bertepatan 02-03 Juni 2023 M, organisasi
Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah akan melangsungkan musyawarah daerah pertama
sekali di Kota Gunungsitoli. Meski bukan hal baru bagi warga Muhammadiyah dan simpatisan di Kota
Gunungsitoli, tetapi menjadi catatan tinta emas dengan berlangsungnya kegiatan ini sejak
pemekaran. Maklum, mengingat kepengurusan ini secara administrasi baru pertama sekali
dilangsungkan pasca pemekaran dengan daerah induk, yaitu Pimpinan Daerah Kabupaten Nias.
Menjelang dilaksankan Musyda (Musyawarah Daerah), telah terbentuk panitia pelaksana bersama.
Kegiatan akbar ini akan dilangsungkan di Perguruan Muhammadiyah Gunungsitoli. Panitia yang
terdiri antara kolaborasi tua-muda menjadi spirit menjanjikan akan regenerasi persyarikatan
Muhammadiyah terus berlanjut. Tidak lupa, masing-masing organisasi juga membentuk tim
independen Panitia Pemilihan (Panlih) yang merupakan ujung tombak dalam pencarian, seleksi, dan
tabulasi calon pemegang estafet kepemimpinan ke depan. Harapan tertuju mengingat pemilihan ini
berada di waktu rawan, terlebih menjelang pemilihan umum tahun 2024.
Berdirinya bendera Persyarikatan Muhammadiyah sudah cukup lama, jauh sebelum founding father
kita, Ir. Soekarno dan M. Hatta mengumandangkan kemerdekaan Indonesia secara lantang. Tahun
1933 merupakan lembaran awal Muhammadiyah berkibar di Pulau Nias. Dari dakwah saudagar dari
Pulau Sumatera, gerakan yang dimulai di Yogyakarta sampai ke Gunungsitoli dan sekitar. Sebagai
daerah terjauh dan minoritas dari umat yang lain (umat Kristen dan katolik), tidak melunturkan
semangat dalam mengibarkan panji persyarikatan di TanÖ Niha (Sebutan nama pulau Nias dari
bahasa Nias).
Pergerakan Muhammadiyah di Pulau Nias juga tidak luput dari berbagai tindakan yang intoleran dari
berbagai kalangan, dimulai dari tradisional hingga pengawasan kolonial. Meski begitu, selama 80
tahun Muhamadiyah terus bertahan dan berkembang. Tidak sedikit kader-kader Persyarikatan
Muhammadiyah eksis dan berhasil sebagai pendakwah, pemangku pemerintahan, dan saudagar.
Berbagai aset seperti Perguruan Muhammadiyah Gunungsitoli, Masjid Taqwa Muhammadiyah di
Kelurahan Ilir, Panti Asuhan di Desa Mudik, beberapa aset Muhammadiyah di desa Tetehosi dan
Fowa (Gunungsitoli Idanoi) dan yang tersebar di wilayah di Nias lainnya seperti Lahewa dan
Sifahandro (Nias Utara), Sirombu dan sekolah di Pulau Hinako (Nias Barat), dan Madrasah
Muhammadiyah di Pulau-Pulau Batu (Nias Selatan) jadi bukti Persyarikatan perkembangan
Muhammadiyah di Pulau Nias, khususnya Kota Gunungsitoli hingga kini.
Menjadi pertanyaan, bagaimana kepemimpinan selanjutnya Muhammadiyah, Aisyiyah, dan
Nasyiatul Aisyiyah yang sebentar lagi akan melaksanakan Musyda di Kota Gunungsitoli. Tentu
menarik dibahas mengingat progress kemajuan pergerakan akan berada di puncuk seorang
pimpinan terpilih. Terlebih uniknya, pemilihan ketua tidak bisa dilakukan secara langsung karena
system pemilihan di Persyarikatan menggunakan system formatur. Pemilihan formatur terpilih, baik sebanyak 9 atau 13 orang tidak akan membuat pemilih suara tertinggi menjadi ketua terpilih. Bisa
jadi nama calon lainnya dari formatur tersebut justru terpilih menjadi ketua.
Diumur belia pasca pemekaran Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah tingkat daerah bisa
dikatakan berjalan dengan baik. Meski begitu, banyak hal yang perlu dijadikan catatan bersama
dalam memaksimalkan transformasi gerakan, terlebih menjelang Musyda yang akan dilangsungkan
dalam waktu dekat. Penulis mencatat beberapa poin krusial antara lain:
1). Menelaah, mengkaji, dan agendakan rumusan kajian strategis di tingkat atas (Pimpinan Pusat dan
Wilayah) kedalam rancangan aksi dan strategis kepemimpinan di tingkat Daerah. Sehingga agenda
gerakan lebih tertata baik, fokus pada target pembangunan kader dan mampu berimpilasi tidak
hanya untuk Muhammadiyah, warga, dan simpatisan juga pemerintah setempat sebagai patner
pembangunan.
2). Melaksanakan edukasi bersama di tingkat pimpinan persyarikatan. Baik dalam pelaksanan baitul
arqam pimpinan dan instansi amal usaha dan pengajian pimpinan daerah. Pengajian yang dimaksud
baik up to date ilmu Keislaman, Kemuhammadiyahan, Organisasi dan hal yang berkembang saat ini
seperti kesehatan, politik, ekonomi, dan sosial.
3). Membangun pos-pos keberlangsung regenarasi organisasi, seperti kaderisasi da’I muda,
membaca kemampuan serta menjadi wadah mengasah kader yang ahli di bidang politik, ekonomi,
social-budaya, seni, olahraga. Sehingga lahir stok kader dari berbagai latar belakang. Dalam
melangsungkan regenerasi, hendaknya mampu membangun lokus dan rancabangan sesuai
kebutuhan wilayh Kota Gunungsitoli serta bersinergi dengan seluruh ortom dan jajaran dibawah.
4). Memasifkan gerakan dengan pemanfaatan aset agar optimal, terlebih dengan status penggunaan
aset yang belum clear antara pengurus daerah dan cabang. Termaksud gedung dakwah sebagai
pusat gerakan serta sekretariat organisasi ortom, baik di tingkat daerah, cabang, hingga ranting.
Begitu juga semangat dalam pengadaan dan merevitalisasi amal usaha, termaksud pengadaan aset
persyarikatan di Gunungsitoli Utara sayap gerakan optimal.
5). Kepemimpinan yang bersinergi antara Muhamamdiyah dan ortom di Gunungsitoli (Aisyiyah,
Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah) sehingga terjalin
keakraban dan komunikasi yang intens. Hal ini akan juga mampu membangun frame bersama
tentang gerakan berkelanjutan di Kota Gunungsitoli.
6). Formatur dan pimpinan terpilih wajib serta mampu menjalankan amanat dengan baik. Tidak
hanya mampu sebatas membagi waktu, juga bisa membaca potensi dan hambatan yang terjadi.
Sehingga benang kusut yang ada di Persyarikatan Muhammadiyah Kota Gunungsitoli perlahan-lahan
dapat terurai dengan baik.
7). Membangun komunikasi organisasi lebih humanis, kultural, dan jauh dari kesan ekslusif.
Memasifkan gerakan yang cenderung kultural dan mampu diterima kalangan bawah. Hal ini mampu
menyentuh berbagai lapisan warga dan simpatisan muhammadiyah, terlebih yang berada di akar
rumput.
8). Membaca kebutuhan dan potensi yang akan meningkatkan gerakan dan value Muhammadiyah
dan ortom di Kota Gunungsitoli. Selain itu merevitalisasi
9). Bersinergi bersama dengan pemangku jabatan (pemerintah daerah, kementerian agama) dan
organisasi masyarakat/ kepemudaan sebagai mitra startegis dalam menjalankan tugas dan fungsi
membina masyarakat.
Beberapa poin tersebut menurut penulis bisa jadi ada kurang, namun melihat gerakan dan animo
akar rumput di Musyda Muhammadiyah, Aisyiyah, dan Nasyiatul Aisyiyah menjadi kabar bahagia
yang telah lama terdengar. Berbagai tindak-tanduk Muhammadiyah dan ortomnya di Gunungsitoli
dan Nias umumnya dalam menjalankan amar’ ma’ruf nahi mungkar diharapkan bukan lembaran
yang telah usai. Seperti gerakan memakai jilbab di sekolah tahun 90-an di Nias justru di inisiasi
kader-kader muda Muhammadiyah. Atau kasus yang masih fresh, penistaan Nabi Muhammad SAW
dengan bahasa Nias lewat aplikasi tiktok. Saat itu Pemuda Muhammadiyah bersama organisasi
kepemudaan Islam lain di Gunungsitoli bersama melaporkan kasus tersebut ke Polres Nias dan kasus
telah ditangani dan dilimpahkan di Polda Sumatera Utara.
Progres kepemimpinan sangat diharapkan mengingat ketua dan formatur terpilih akan dihadapkan
dengan situasi yang tidak mudah. Progres kemajuan sebagai jargon Muhammadiyah sangat ditunggu
dalam mewarnai perkembangan Kota Gunungsitoli yang dinamis. Menjelang tahun politik 2024,
diharapkan kepemimpinan tetap terjaga dengan baik. Karena bukan nilai-nilai praktis dan parsial
yang tertanam, tetapi semangat fastabiqul khairat dan amar ma’ruf nahi mungkar yang dibumikan
di berbagai sudut kultur masyarakat Kota Gunungsitoli yang multi etnis. Seperti kata mantan Ketua
Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Kasman Singodimerjo, “didalam musyawarah umat Islam
bukan kemenangan yang dikejar, tetapi kebenaran yang harus didudukkan”.
Harapan tetap tersematkan kepada pimpinan-pimpinan yang akan terpilih nantinya pada tanggal 02-
03 Juni ini. Perguruan Muhammadiyah Gunungsitoli sebentar lagi akan jadi saksi bisu calon formatur
yang akan dipilih oleh pemilik suara. Warga dan simpatisan menunggu kepemimpinan yang tidak
hanya cakap dalam memimpin, mampu membangun komunikasi antar pihak lain, namun juga
tauladan yang baik untuk masyarakat sekitar. Memang tidak mudah, namun kita tetap yakin semoga
Allah SWT meridhoi Muhammadiyah dan kita semua yang berjuang bersama. Abadi Perjuangan. (***)
The post Musyda Muhammadiyah Kota Gunungsitoli: Antara Harapan dan Tantangan appeared first on Infomu.






