Perubahan iklim menjadi ancaman serius bagi warga dunia. Tidak hanya bencana alam, perubahan iklim juga berdampak pada bencana sosial. Hal tersebut dijelaskan dalam kajian bertajuk Sustainable Development Goals Heroes: Is It Too Late to Prevent Climate Change? yang digelar oleh Pusat Kebudayaan Amerika Serikat, Selasa (25/10). Kajian tersebut diikuti oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Politik FISIP UMJ di @america, Pacific Place, Jakarta Pusat, dan disiarkan langsung melalui kanal Youtube atamericaa.
Kajian menghadirkan Spesialis Kebijakan Lingkungan Rachman Kurniawan, Direktur Bidang Lingkungan USAID Indonesia Brian Dusza, dan Konsultan Lingkungan dan Sosial Dwipayana. Ketiga narasumber sepakat bahwa perubahan iklim adalah hal serius dan sangat penting melakukan upaya untuk mengurangi dampaknya. Menurut Rachman, upaya tersebut harus dilakukan atas kerja sama seluruh stakeholder. “Selain pemerintah, ada non-state actor, NGO (non government organization), masyarakat sipil, pelaku usaha, filantropi, pakar, media, dll,” ungkap Rachman.
Kiri ke kanan: Rachman Kurniawan, Dwipayana, Brian Dusza, Rizkina Aliya, dalam kegiatan Sustainable Development Goals Heroes di @america, Selasa (25/10).
Dwipayana mengatakan masalah perubahan iklim menyebabkan masalah lainnya yakni kemiskinan bahkan ketahanan pangan. Menurut Dwipayana, sulit mencapai tujuan berkelanjutan yang ada di SDGs jika ada ancaman bencana iklim. Pernyataan tersebut didukung oleh Brian, “Climate is should be the center of all the goals (SDGs).”
Rachman juga mengatakan hal senada. Ia menjelaskan bahwa perubahan iklim menjadi arus utama dalam misi pembangunan nasional sebab masalah yang muncul akibat perubahan iklim beragam mulai dari masalah ekonomi hingga kesehatan. Sementara itu, Brian berpendapat bahwa penanganan terkait isu perubahan iklim di setiap negara berbeda-beda. Oleh karenanya setiap negara harus saling mempelajari bagaimana upaya mitigasi yang dilakukan oleh negara lain. Brian yang berasal dari Amerika Serikat menggambarkan contoh konkrit yang dilakukan dalam mitigasi perubahan iklim salah satunya adalah mendorong investasi dalam bidang energi baru terbarukan, kendaraan listrik, dan berbagai aktivitas rendah karbon.
Penurunan tingkat karbon pernah terjadi ketika pandemi. Adanya pandemi memberikan hikmah tersendiri bagi tingkat emisi karbon. Namun upaya menurunkan emisi karbon dapat dilakukan dengan berbagai cara. Brian menjelaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menurunkan emisi karbon. Luas lautan dan hutan yang dimiliki Indonesia adalah harta kekayaan yang menurut Brian dapat dilakukan konservasi.
Dwipayana menegaskan bahwa upaya-upaya tersebut perlu melibatkan seluruh pihak terutama sektor swasta dan pemerintah selain dari memainkan peran masyarakat untuk mengubah kebiasaan. “Partnership really important to manage climate issue. Private sector have an important rule to have invesment to low carbon product and activity,” tegas Dwipayana.
Sebanyak kurang lebih 50 mahasiswa Ilmu Politik didampingi dosen Prodi Ilmu Politik FISIP UMJ Dr. Asep Setiawan, MA., mengikuti kajian dengan antusias. Kegiatan tersebut merupakan salah satu penunjang dalam pembelajaran mahasiswa terutama dalam bidang Ilmu Politik dan Hubungan Internasional. Isu lingkungan menjadi penting karena bukan hanya karena melibatkan berbagai aktor tapi juga menyangkut kemaslahatan orang banyak yang mendorong pembuat kebijakan untuk memainkan peran pentingnya. (DN/KSU)
Artikel Mahasiswa Ilmu Politik Hadiri Kajian Perubahan Iklim pertama kali tampil pada Universitas Muhammadiyah Jakarta.



