Abdul Mu’ti Tekankan Pentingnya Usia Emas Anak
INFOMU.CO | Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meresmikan program revitalisasi satuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) TK KB ‘Aisyiyah Pondok Cabe Hilir yang dikelola oleh Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Pondok Cabe Ilir, Rabu (26/2). Pada kesempatan tersebut, ia juga menyosialisasikan program wajib belajar 13 tahun kepada masyarakat.
Kini, TK KB ‘Aisyiyah Pondok Cabe Hilir telah memiliki fasilitas yang lengkap. Abdul Mu’ti berharap sarana dan prasarana tersebut dapat menjadi medium untuk membangun dan mendidik generasi Indonesia yang hebat dan kuat.
“Program wajib belajar 13 tahun merupakan bagian dari program Bapak Presiden untuk menyiapkan Generasi Emas Indonesia 2045. Secara psikologis, perkembangan anak yang paling menentukan berada pada masa emas atau golden period, yakni usia 0–5 bahkan hingga 7 tahun,” ungkapnya.
Menurutnya, satuan PAUD merupakan fondasi pendidikan yang sangat menentukan, baik dari sisi perkembangan motorik halus dan kasar, intelektual, sosial, maupun spiritual anak. Pada fase ini, anak perlu diberi ruang untuk mengeksplorasi dunia dengan imajinasi mereka.
Melalui sarana, peralatan, serta bimbingan guru, anak-anak didorong untuk tumbuh percaya diri dan memiliki kesiapan melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.
Abdul Mu’ti yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan bahwa perhatian terhadap pendidikan tidak hanya dimulai saat anak memasuki usia emas, tetapi bahkan sejak dalam kandungan.
Ia mengutip konsep prenatal classroom, yakni pendidikan sejak dalam kandungan. Menurutnya, perkembangan fisik janin sangat berkaitan dengan nutrisi dan gizi ibu. Bahkan, sekitar 75 persen perkembangan otak terjadi saat janin masih berada dalam kandungan.
“Dari sudut pandang agama, ketika Allah meniupkan ruh pada usia empat bulan, janin menjadi makhluk hidup. Pada fase itu, janin sudah bisa mendengar dan mulai belajar,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pemenuhan nutrisi dan gizi yang cukup bagi ibu hamil demi kesehatan dan perkembangan otak janin. Hal inilah yang menjadi alasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyasar anak sekolah, tetapi juga ibu hamil dan ibu menyusui.
“Program MBG ditujukan bukan hanya untuk anak sekolah, tetapi juga ibu hamil dan menyusui. Nutrisi yang cukup sangat penting bagi perkembangan jaringan otak dan kesehatan janin,” tegasnya.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti menekankan bahwa pendidikan PAUD memiliki peran strategis dalam membangun imajinasi, cita-cita, dan rasa percaya diri anak. Peran guru PAUD pun sangat krusial.
“Menjadi guru TK harus selalu tersenyum, tidak boleh cemberut, tidak berbicara kasar, dan harus memberi teladan. Anak-anak pada usia ini berada dalam tahap perkembangan konkret, sehingga semua harus terlihat dan dicontohkan secara langsung,” pesannya.
Di usia tersebut, anak-anak gemar bertanya dan membutuhkan jawaban yang baik. Melalui PAUD pula, anak belajar bersosialisasi, berbagi, mengenal toleransi, dan menghargai orang lain.
“Mereka belajar berbagi dan bertukar alat bermain sebagai bagian dari proses sosialisasi. Karena itu, pemerintah berkomitmen memperkuat PAUD, sekaligus menciptakan lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Mengakhiri sambutannya, Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa TK ‘Aisyiyah didirikan untuk melayani masyarakat agar dapat menitipkan putra-putrinya belajar dalam lingkungan yang mendukung. Ia berharap lembaga tersebut menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam membangun generasi Indonesia yang kuat dan unggul menuju Indonesia Emas 2045. (muhammadiyah.or.id)

